Kokon Sejahtera Terobosan Baru Persuteraan Alam

Kain sutera dikenal memiliki harga yang mahal karena kehalusan dan kelembutannya. Karena itu bagi pemintal benang sutera seharusnya dapat memperoleh pendapatan yang lumayan. Tetapi yang terjadi pada masyarakat ialah sebaliknya. Banyak petani sutera yang bangkrut karena harga jual kokon yang rendah. Selain itu petani sutera tidak dapat mengolah lebih lanjut hasil panen menjadi benang, kalau menjadi benang kualitasnya masih rendah.

Permasalahan yang muncul pada petani sutera ini membuat dosen Fakultas Peternakan Ir. Nur Cholis, MS. dari Universitas Brawijaya di ubah menjadi sebuah potensi. Permasalahan tersebut membuat beliau tertantang untuk mengembangkan usaha sutera alam ini. Tantangan itu berusaha dijawab dengan mengeluarkan inovasi baru berupa teknologi pengurai kokon yang sederhana. Hal ini diharapkan agar petani kecil sutera dapat mengaplikasikan alat pengurai kokon untuk meningkatkan nilai jual. Program yang mendapat dukungan dari MITI dan Kementrian RISTEK ini diberi nama Tim Kokon Sejahtera. Tim ini dikerjakan dengan beberapa mahasiswanya untuk mempermudah gerak.

Usaha pengembangan sutera alam ini masih memiliki peluang serta potensi yang besar. Hal ini didasarkan pada kebutuhan sutera alam di Indonesia yang cukup tinggi. Menurut data tahun 2008, kebutuhan benang sutera dunia mencapai 118.000 ton per tahun, sedangkan kebutuhan dalam negeri 700 ton per tahun. Tetapi Indonesia hanya menghasilkan benang 81,5 ton per tahun. Akibatnya Indonesia harus impor untuk memenuhi kebutuhan yang kurang. Dari data tersebut terlihat bahwa untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri masih kurang dan itu merupakan peluang yang sangat besar.

Didaerah tropis sebenarnya baik untuk perkembangan sutera alam tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Daerah yang masih ada budidaya sutera alam ada di Sopeng – Sulawasi Selatan, Pati – Jawa Tengah, serta daerah Jawa Barat. Ada informasi juga di daerah Bali terdapat pengembangan sutera alam. Di Jawa Timur pernah ada yaitu di Pare – Kediri dan Pasuruan, tetapi sekarang sudah tidak produksi lagi.

Keadaan ini membuat semangat Tim Kokon Sejahtera untuk mengembangkan usaha sutera alam di Jawa Timur. Usaha pengembangan ini untuk memunculkan kembali sutera alam Jawa Timur yang telah lama mati. Pengembangan ini menggunakan sentuhan teknologi baru yang diharapkan dapat mudah diterima masyarakat. Sehingga pengembangan sutera alam dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selama ini petani sutera alam banyak menjual hasil panen berupa kokon atau kepompong. Yang ketika dijual harganya murah dan belum lagi jika harganya di mainkan oleh para tengkulak. Kegiatan jual beli ini yang sering kali membuat rugi petani dan akhirnya mengalami gulung tikar. Dengan sedikit sentuhan teknologi sederhana diharapkan kokon dapat dirubah menjadi benang. Dirubahnya kokon menjadi benang berarti dapat meningkatkan nilai jual.

Semoga dengan usaha Tim Kokon Sejahtera ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan produksi sutera dalam negeri.

Sumber dengan berbagai perubahan: Media Iptek Edisi 34 (Oktober – November 2010)

  1. Saya, Arief Soegiarto dari Surabaya. Saya sedang mengembangkan pembibitan telor ulat sutra jenis makan daun SINGKONG.
    Silahkan Bpk.Ir. Nur Cholis, MS. dari Universitas Brawijaya kontak saya untuk diskusi soal pengembangan persutraan di Indonesia.
    Kontak kami di: 085 323 7788 54

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: