EKSISTENSI 120 MENIT

by Nana Aziz on Friday, 21 January 2011 at 18:47

Aku, aku sebatang kara hidup di dunia yang penuh samsara, meski sering ku dibuatnya lara tapi justru itu yang buatku makin membara. Dulu aku sering merasa pilu karena telah dipermainkan malu lalu, tapi justru itu yang buatku tak lagi luluh. Kini, aku masih sering becanda dengan marah, sayang dia selalu membelaiku terlalu parah sehingga ku tak lagi bisa menahan amarah. Tak urung, sekarang aku tak lagi takut darah yang pernah meneggelamkanku dalam merah

Selembar papan putih bergariskan hitam, tanpa tendensi, tanpa skema, terhegemoni oleh waktu, terurai ratusan jadwal, terjamah oleh puluhan tangan, terbubuhkan warna, dan tertuliskan namamu : KAMMI FIA, KAMMI FE, KAMMI FH, KAMMI FISIP, KAMMI FK, KAMMI FTP, KAMMI FT, KAMMI FP, KAMMI FPt, KAMMI FPIK, KAMMI PKH, KAMMI MIPA, KAMMI FIB, KAMMI EM, KAMMI DPM dan KAMMI-KAMMI lainnnya…dan dalam bahasa saya, saya menyebutnya “EKSISTENSI 120 MENIT”

Bukan soal nama, bukan juga soal siapa kamu, ini persoalan paradigma, cara pandang, keberanian berfikir….karena sejatinya buliran kata demi kata landasannya adalah kefahaman dan muaranya adalah keikhlasan dan dalam bahasa KAMMI adalah berkehendak untuk merdeka

Tulisan frase KAMMI sebelum identitas komunitas lembaga mereka berasal, bagi saya memberikan pesan moral tersendiri, satu sisi menghadirkan kebanggaan tapi satu sisi menghadirkan otokritik secara komunal, karena sebagai kader KAMMI tentu saya berharap tidak terjadi sebuah paradoksal

Tapi apapun tafsirnya, apapun pemaknaannya, sekalipun berbeda bagi saya tidak jadi soal karena seperti itulah kehidupan, di sana ada aku, ada kamu dan ada mereka. Masing-masing mempunyai pilihannya, masing-masing mempunyai penawarannya sendiri

Kawan, kalo ada yang merasa kecewa biarkan kecewanya lepas ke penjuru arah, kalo ada yang merasa bahagia biarkan bahagianya juga lepas ke penjuru arah, biarkan semua kuasa bebas menurut masa, karena waktu akan menunjukan hegemoninya dan menampakan realitanya

Biarkan mereka tertawa karena menyangka telah temukan cara….tapi ingat kawan, jangan berfikir engkau adalah seorang pengecut karena itu akan buatmu kecut, terjerumus dalam runut kontemplasi yang makin menciut, sehingga akan memaksamu berlutut tuk akui takut…..kawan, sadarilah bahwa dirimu lebih dari apa yang sekedar kamu sadari

Hanya ini yang bisa kuberikan, aku datang hanya sebagai diriku, aku bukan guru dan aku juga bukan dewa, aku datang hanya sebagai aku yang mencari sejatiku, tugasku hanya menterjemahkan gerak daun yang bergantung di ranting yang letih, rahasia membutuhkan kata yang terucap di puncak sepi, ketika daun jatuh tak ada titik darah, tapi di ruang kelam ada yang merasa kehilangan dan mengaduh pedih….

21 Januari 2011

Terinspirasi dari papan syuro (rapat)

Diserpihan Griya Wacana, Nana Aziz (Tanpa sengaja kadang mendengar perbincangan mereka)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: