Peluit Tanpa Makna

Peluit barang yang tidak asing bagi kita. Alat yang dapat mengeluarkan bunyi ini sering digunakan oleh Polisi, Tukang Parkir dan wasit dalam setiap pertandingan. Meskipun memiliki cara dan suara yang sama dalam menggunakan peluit memiliki makna yang berbeda. Kalau peluit yang dipake Polisi biasa digunakan untuk mengatur lalulintas atau aba-aba dijalan raya. Sedangkan tukang parkir menggunakan peluit untuk memberi aba-aba atau mengarahkan kendaraan yang akan parkir. Tetapi pada profesi wasit peluit digunakan untuk memberi tanda dimulainya suatu pertandingan atau tanda untuk menghentikan sementara atau mengakhiri suatu pertandingan.

Tapi terkadang peluit itu menjadi tanpa makna. Artinya suara yang ada hanya dianggap angin lalu yang tak perlu didengar bahkan tak perlu diperhatikan. Kemudian saya memikirkan antara Sang Pemberi peringatan dan yang diperingatkan. Kita terkadang menjadi orang yang cuek atau berpikir bahwa kita tidak diperingatkan atau mendispensasi diri sendiri untuk melakukan hal yang melanggar. Kita tidak merasa bahwa kita di awasi oleh Allah selama 24 jam sehari tanpa terlewatkan.

Allah memperingatkan kita setiap saat. Dalam Al-qur’an   Allah sudah memperingatkan kita. Kita diperingatkan mulai bahaya tentang bahaya merusak alam dan ternyata. Pentingnya aqidah pun juga telah tersampaikan dalam Al-qur’an. Dalam dunia nyata kita terkadang masih menemukan orang-orang yang mengabaikan peringatan itu. Peringatan itu tidak harus datang kepada kita sendiri. Bisa jadi datang ditempat yang lain. Misalkan bencana alam berupa tanah longsor, kita terkadang tidak merasa kita lah yang di ingatkan. Seharusnya kita merasa bahwa itu ialah peringatan bagi kita.

Kita harus sadar apa yang harus kita lakukan. Jika kita ada bencana alam seharusnya kita sadar bahwa menjaga dan mengelola alam agar tetap baik ialah tugas kita. Tantangan dalam mengelola aqidah juga merupakan hal yang perlu diperhatikan. Bencana yang ada bukan hanya karena faktor alam. Bisa juga karena aqidah dan ibadah kita kepada Allah. Bisa jadi karena maksiat kepada Allah. Maksiat kepada Allah dapat menimbulkan kemurkaan dari Allah. Nah, sekarang bagaimana kita apakah merasa di awasi oleh Allah atau tidak. Jika kita merasa di awasi oleh Allah maka kita harus berusaha untuk tidak melakukan maksiat. Tapi kita harus selalu berjalan untuk melakukan kebaikan. Semoga peringatan-peringatan yang disampaikan oleh Allah menjadi renungan kita untuk berubah menjadi lebih baik bukan menjadi angin lalu saja. Maaf jika ada salah kata.

NB: Jangan lupa sholat wajib 5 waktu dan baca Al-qur’an.

GW, 17 Juni 2011. jam 17.04

About Cak Bas

Tarbiyah bukan segalanya, tapi segalanya dapat dicapai dengan tarbiyah...

Posted on 22 Juni 2011, in Tausiyah and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: