Monthly Archives: Januari 2011

Gunung – Lautan

Tingginya gunung dan dalamnya lautan dapat di hitung
Tapi, dalamnya hati siapa yang tau.
Jangan pernah membuat orang lain membenci kita dan menyakitinya.
Karena tingginya kebencian kepada kita dan dalamnya luka di hati siapa yang tau.

Refleksi hari ini part: 3

Jangan Melihat Orangnya…

Mungkin kita pernah dipanggil orang penting disekitar kita karena prestasi kita atau hanya sekedar dipanggil saja untuk urusan tertentu. Mungkin dipanggil Walikota, Bupati, Dekan, Rektor, atau Presiden BEM. Ketika dipanggil kita akan merasa menjadi orang yang istimewa karena dipanggil orang yang kita anggap ‘penting’, dan kita pun menyegerakan untuk bisa memenuhi panggilan itu. Tapi kalau dipanggil orang yang kita anggap ‘dibawah’ kedudukan kita terkadang kita akan berpikir ulang. Atau ketika kita melihat pengantar surat undangan kita memalingkan wajah tanpa tau siapa yang mengundang. Seharusnya kita melihat siapa yang mengundang kita. Fenomena itu juga terjadi ketika adzan berkumandang. Seharusnya kita tidak memandang siapa yang adzan tetapi siapa yang mengundang kita. Tentunya Allah yang mengundang kita melalui adzan itu. Sayangnya panggilan itu tidak disambut dengan cepat. Terkadang diabaikan begitu saja panggilan dari Allah itu. Berbeda ketika kita dipanggil oleh orang yang kita anggap ‘penting’ tadi. Ini sangat terbalik, seharusnya ketika yang mengundang itu Allah maka kita harus menyegerakan bukan menunda. Bahkan sampai muncul guyonan,’panggilan sholat itu Adzan atau takbiratul ikhram???’. Miris jika kita ketinggalan dengan sengaja tanpa udzur yang syar’i. INGAT..!!! Allah yang menguasai seluruh Alam ini. Ketika Allah mengambil kita menghadapnya (di ambil nyawa kita) maka tidak ada toleransi atau penundaan sedikitpun. Tapi Allah telah memperingatkan manusia akan datangnya panggilan itu. Semoga kita menjadi orang-orang yang menyegerakan untuk mendatangi panggilan Adzan dan sholat berjamaah dimasjid bagi laki-laki.

NB: Jangan lupa baca al-Qur’an dan sholat 5 waktu.

GW, 27 Januari 2011

Refleksi hari ini: Part 2

Beras, Nasi, Berkah…

Mayoritas penduduk di Indonesia itu mengkonsumsi beras yang di olah menjadi nasi. Bahkan sampai muncul istilah urung sarapan lek urung mangan sego(belum sarapan klo belum makan nasi), meskipun sudah makan roti dan minum susu. Berbicara tentang makan, di dalam islam ada adabnya. Adab-adabnya yaitu dengan memulai makan dengan baca ‘basmallah’ dan mengakhiri makan dengan menucap syukur kepada Allah (do’a sebelum dan setelah makan sudah hafal kan..???). Nah, yang sering dilupakan bahkan disepelekan oleh orang itu makan menggunakan tangan kanan, banyak kita melihat disekitar kita orang yang makan dan minum yang masih menggunakan tangan kiri. Padahal klo kita menganggap tangan kanan itu untuk melakukan yang baik dan makan itu juga baik berarti kita juga harus makan menggunakan tangan kanan (kecuali jika tidak memungkinkan). Kemudian jika makan jangan meniup makanan yang panas. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk menghirup udara di dalam gelas (ketika minum) dan meniup di dalamnya.” (HR. At Tirmidzi). Belum lagi klo kita lagi sakit, pas meniup makanan bisa-bisa menyebarkan penyakit…hehehe… Yang tidak kalah pentingnya klo makan jangan terlalu kenyang (biasanya klo lagi makan model prasmanan). Trus cabe mahal lagi (gak nyambung ya..hehehe…). Read the rest of this entry

EKSISTENSI 120 MENIT

by Nana Aziz on Friday, 21 January 2011 at 18:47

Aku, aku sebatang kara hidup di dunia yang penuh samsara, meski sering ku dibuatnya lara tapi justru itu yang buatku makin membara. Dulu aku sering merasa pilu karena telah dipermainkan malu lalu, tapi justru itu yang buatku tak lagi luluh. Kini, aku masih sering becanda dengan marah, sayang dia selalu membelaiku terlalu parah sehingga ku tak lagi bisa menahan amarah. Tak urung, sekarang aku tak lagi takut darah yang pernah meneggelamkanku dalam merah

Selembar papan putih bergariskan hitam, tanpa tendensi, tanpa skema, terhegemoni oleh waktu, terurai ratusan jadwal, terjamah oleh puluhan tangan, terbubuhkan warna, dan tertuliskan namamu : KAMMI FIA, KAMMI FE, KAMMI FH, KAMMI FISIP, KAMMI FK, KAMMI FTP, KAMMI FT, KAMMI FP, KAMMI FPt, KAMMI FPIK, KAMMI PKH, KAMMI MIPA, KAMMI FIB, KAMMI EM, KAMMI DPM dan KAMMI-KAMMI lainnnya…dan dalam bahasa saya, saya menyebutnya “EKSISTENSI 120 MENIT”

Bukan soal nama, bukan juga soal siapa kamu, ini persoalan paradigma, cara pandang, keberanian berfikir….karena sejatinya buliran kata demi kata landasannya adalah kefahaman dan muaranya adalah keikhlasan dan dalam bahasa KAMMI adalah berkehendak untuk merdeka

Tulisan frase KAMMI sebelum identitas komunitas lembaga mereka berasal, bagi saya memberikan pesan moral tersendiri, satu sisi menghadirkan kebanggaan tapi satu sisi menghadirkan otokritik secara komunal, karena sebagai kader KAMMI tentu saya berharap tidak terjadi sebuah paradoksal

Tapi apapun tafsirnya, apapun pemaknaannya, sekalipun berbeda bagi saya tidak jadi soal karena seperti itulah kehidupan, di sana ada aku, ada kamu dan ada mereka. Masing-masing mempunyai pilihannya, masing-masing mempunyai penawarannya sendiri

Kawan, kalo ada yang merasa kecewa biarkan kecewanya lepas ke penjuru arah, kalo ada yang merasa bahagia biarkan bahagianya juga lepas ke penjuru arah, biarkan semua kuasa bebas menurut masa, karena waktu akan menunjukan hegemoninya dan menampakan realitanya

Biarkan mereka tertawa karena menyangka telah temukan cara….tapi ingat kawan, jangan berfikir engkau adalah seorang pengecut karena itu akan buatmu kecut, terjerumus dalam runut kontemplasi yang makin menciut, sehingga akan memaksamu berlutut tuk akui takut…..kawan, sadarilah bahwa dirimu lebih dari apa yang sekedar kamu sadari

Hanya ini yang bisa kuberikan, aku datang hanya sebagai diriku, aku bukan guru dan aku juga bukan dewa, aku datang hanya sebagai aku yang mencari sejatiku, tugasku hanya menterjemahkan gerak daun yang bergantung di ranting yang letih, rahasia membutuhkan kata yang terucap di puncak sepi, ketika daun jatuh tak ada titik darah, tapi di ruang kelam ada yang merasa kehilangan dan mengaduh pedih….

21 Januari 2011

Terinspirasi dari papan syuro (rapat)

Diserpihan Griya Wacana, Nana Aziz (Tanpa sengaja kadang mendengar perbincangan mereka)

Refleksi hari ini: Part 1

Misteri Kematian….

Orang yang meninggal itu yang dibawa hanya kain kafan putih. Dan ada tabungan yang menikutinya dan tidak pernah terputus yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a dari anak yang sholeh. Tidak akan ada yang tau kapan nyawa ini akan diambil Oleh-NYA. Hari ini, besok atau kapan pun. Dalam Al-qur’an (surat Al-Waqi’ah: 60): “Kami telah menentukan kematian diantara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan”, bahkan kalau kita bersembunyi dalam lubang semut atau dalam benteng yang tinggi dan kokoh pun kematian akan tetap datang dan tidak dapat ditunda sedikit pun. Tapi kita sudah diingatkan oleh Allah. Ada beberapa tanda sebagai peringatan bagi kita yaitu rambut yang mulai beruban, daya ingat yang mulai berkurang, dan tubuh yang mulai lemah. Maka mumpung kita masih hidup maka kita harus mempersiapkan bekal dihari akhir. Banyak beramal baik, menjauhi larangan-Nya, mengajarkan ilmu yang dimiliki, senantiasa mendo’akan orang tua kita agar selalu mendapat hidayah dan kasih sayang dari Allah, di beri kesehatan, dan umur yang barokah.

NB: Jangan lupa sholat 5 waktu (karena itu akan ditanyakan oleh malaikat)

GW, 20 Januari 2011

“Menanti ideologisasi ke-KAMMI-an dari sosok GARDA SIYASI (politik) yang baru”

by Nana Aziz on Tuesday, 18 January 2011 at 07:17

Dibawah ruang yang penuh dengan kerapuhan, di altar yang terlalu penuh dengan keegoan, melangkah setapak demi setapak, mencari secercah cahaya diantara jeruji besi, gemuruh detak daun pintu dan diantara gemercik dinding kaca, mencari bagian yang hilang yang seharusnya tak menjadi hilang

Hari itu, kebisuannya biarkan menjadi saksi atas sekumpulan orang-orang yang hadir atas segala kengkuhannya, semoga refleksi tidak hanya sekedar refleksi yang terbalut sebungkus retorika yang pada akhirnya tak menjadi fakta….tapi satu sisi ada sekumpulan orang-orang dengan segala potensi yang dimilikinya tapi tak mampu mengkonsolidasikan untuk menjadi kekuatan, mungkin karena  mereka tidak menyadarinya (ironis), lalu apa yang harus kita lakukan?

Kawan, kita bukan budak-budak rutinitas yang hadir dengan segala kekosongannya, secarik kertas, segenggam tinta sejatinya memiliki makna filosofis-ideologis  yang suatu saat nanti akan menjadi saksi atas perjalanan  panjang perjuangan yang kita lalui, agar kelak kita tidak bertanya, dimanakah muara kita?

Memang, fase perjuangan sejatinya selalu menghadirkan fluktuasi, tapi jangan jadikan frase kata fluktuasi menjadi apologi karena kita tidak sedang di-didik untuk menjadi seorang pecundang!!!!kawan, jangan khianati para pendahulu kita yang bersusah payah mewariskan nilai-nilai ideologisasi, berjuang dengan segala dinamikanya, bahkan terkadang harus menyimpan rasa sakit di sudut hati yang paling dalam, itu tidak lain mereka lakukan agar kemudian kelak tidak muncul sosok generasi baru yang anhistoris, muncul bak pahlawan, tapi tanpa filosofis dan tanpa ideologis

Tulisan ini hadir karena masih ada kata optimisme, masih ada harapan secercah cahaya, dan saya percaya generasi kalian bisa melakukannya……dariku yang selalu merindukan kalian!!!

17 Januari 2011, di atas meja laundry

Nana Aziz, Mantan Kadept Kastrat KAMMI UB Periode 2007-2008

Semoga tulisan dari Kang Nana ini bisa semangat dalam menggerakkan setiap langkah kita….

Dakwah sustainable…

Assalamu’alaikum….

Bismillah…

“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)” (QS, Al Insyirah: 7)….

Al Qur’an itu sampai kapan pun akan tetap sesuai untuk digunakan, karena Allah yang menjaga dan Allah telah menyempurnakan agama islam ini dan Al Qur’an sebagai pegangan. Allah telah menyampaikan dalam surat Al Insyirah ayat 7 bahwasannya ketika kita selesai dari suatu urusan maka kita akan berpindah ke urusan yang lain. Ya, seperti itulah hidup. Ketika kita selesai dari sekolah SMA maka kita pindah ke urusan yang lain. Ada yang kuliah, ada yang kerja, ada yang nikah, dan lainnya. Kita juga sama – sama bekerja keras untuk bisa menyelesaikan setiap urusan kita. Dahulu waktu SMA kita kerja keras untuk menyelesaikannya perang itu dengan UAN, setelah masuk dunia kuliah kita juga bekerja keras dengan medan perang yang berbeda yaitu SKRIPSI (perasaan klo gak dikerjakan kok gak selesai).

Dalam dakwah hal itu juga terjadi. Jika kita selesai dari suatu urusan maka akan pindah ke suatu urusan yang lain. Di bangku kuliah kita mengenal dengan adanya Lembaga Dakwah Kampus. Lembaga ini kemudian sebagai sarana dakwah dalam kampus. Ada suatu cerita, pada suatu saat ditahun penerimaan mahasiwa baru ada mahasiswa yang punya impian untuk bergabung dengan sebuah lembaga dakwah. Anggap saja namanya Rima. Ternyata keinginan itu benar – benar terwujud. Dia(Rima) bergabung dalam lembaga bukan hanya untuk mencari pengalaman saja, tetapi lebih kepada ingin menjaga dirinya dengan kebaikan. Selain itu dia ingin menambah ilmu pengetahuan tentang islam ini.

Lambat dan cepat nya waktu telah berjalan mengantarkan menjadi aktivis. Beban yang berat tidak begitu dirasakan, mulai menjadi staf hingga menjadi PH. Berat atau tidak itu bergantung dari niatnya, jika hanya berniat mencari pengalaman, ya hanya akan mendapat pengalaman saja dan berat untuk menjalani aktivitas dakwah ini. Sesuai dengan hadist yang pertama, ‘sesungguhnya perbuatan itu tergantung niatnya’. Jika niatnya untuk mendapat dunia maka hanya akan mendapatkan dunia saja, tetapi jika yang diniatkan untuk Allah maka akan mendapatkan ridho Allah. Dalam shiroh telah banyak dicontohkan oleh para sahabat yang mengikuti dakwah bukan karena ingin mencari pengalaman tapi untuk mendapat ridho dari Allah dan masuk kedalam surga-Nya yang lebih kekal.

Karena waktu yang terus berjalan maka Rima pun mendapat berbagai amanah (walaupun bagi orang lain itu terkadang berat dilakukan sehingga tidak sungguh-sungguh). Setelah amanah lembaga selesai tidak menyurutkan langkah untuk berdakwah. Karena Rima sadar bahwa amanah berdakwah tidak hanya berhenti ketika selesai dari lembaga tapi amanah dakwah selesai hingga nyawa ini diambil oleh -Nya. Rima banyak belajar dari jalan ini, jalan yang telah mengajarkan menjadi orang yang peduli dengan sekitarnya, bersih dalam aqidah dan perbuatan serta profesional dalam pekerjaan. Rima belajar juga bagaimana menjadi jundi (staf) yang baik dan menjadi qiyadah (pemimpin) yang amanah pula. Karena qiyadah yang baik berasal dari jundi yang baik (yang merasa jadi staf, klo pengen jadi pemimpin yang baik, jadilah staf yang baik).

Ada beberapa hal yang dapat kita ambil. Pertama, dari niat kita. Jika kita berjuang untuk Allah maka niatkan semua hanya untuk Allah. Allah telah berfirman ‘berjuanglah dengan harta dan jiwamu’. Dan Allah juga akan mengganti dengan yang lebih baik. Kedua, amanah atau cobaan itu adalah cara Allah untuk menigkatkan derajat hambanya. Tapi kalau kita selalu melewati rintangan yang sama bertarti kita masih belum lulus dari ujian itu, tapi kalau ujian itu semakin lama-semakin berat maka kita telah lulus dari satu ujian menuju keujian yang lain. Ketiga, Untuk menjadi pemimpin yang baik maka kita harus jadi jundi yang baik. Ingat, setiap kita adalah pemimpin. Keempat, dimanapun kita berada kewajiban kita adalah berdakwah. Ketika selesai dari amanah lembaga dakwah atau lulus dari kuliah tidak menghalangi kita untuk terus berdakwah. Jangan sampai setelah lulus kita kembali seperti dahulu seperti sebelum mengenal dakwah. Karena barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin berarti termasuk orang yang beruntung, yang hari ini yang sama saja dengan yang kemarin maka termasuk orang yang rugi, yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka termasuk orang yang celaka. Fitrah manusia itu meninginkan untuk selalu beruntung, jika ingin beruntung maka hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok lebih baik dari hari ini.

Semangat jalan ini masih panjang…masih banyak kesempatan kita untuk mendapat amal kebaikan… ALHAMDULILLAH…

NB: Afwan jika ada nama yang sama karena itu memang disengaja, semoga bermanfaat… Ingat..ingat.. jangan lupa sholat 5 waktu dan tilawah al qur’an.

GW, 16 Januari 2011

Karet Jam atau Jam Karet…???

Assalamu’alaikum…

Bismillah….

Benda dengan nama karet memang tidak asing terdengar di telinga kita bahkan kita sering melihat dan memegangnya. Karet berasal dari getah karet yang disadap dari pohon karet. Setelah melewati beberapa rangkaian getah tersebut dijadikan menjadi beberapa barang mulai dari ban mobil sampai karet untuk bungkus makanan. Karet memiliki keunggulan yaitu kuat, lentur sehingga flexsibel untuk digunakan. Tapi muncul pertanyaan, kira-kira ini Karet Jam apa Jam Karet…???. Bisa berarti karetnya jam atau jamnya karet…karetnya dibuat jam atau jamnya dari karet??? kok bulet ya…maksudnya mbulet…

Kita tidak bicara masalah asal usul karet yang klo asal jangan usul, klo usul jangan asal… Kata-kata jam karet kita sering mendengar. Apalagi pengguna kereta di akhir pekan, maka akan sering merasakan kereta yang datang terlambat dari jadwal seharusnya. Tapi pada saat ini PT. KAI sudah lebih baik, tidak telat lagi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kita tidak membahas terkait jadwal keberangkatan kereta api, tetapi tentang ‘jam karet’ yang sering menimpa kita. Sebagai seorang muslim seharusnya kita menjadi orang yang tertata segala urusannya. Berarti disiplin dengan segala urusan. Yang menjadi sorotan saat ini ialah disiplin waktu atau ketetapan waktu terhadap setiap kegiatan kita. Setiap kegiatan, syuro’ dll kita menginginka ketepatan waktu. Tapi pada kenyataannya dilapang tidak seperti itu, yang agenda seharusnya dimulai jam 7 ternyata baru dimulai jam 8 bahkan parahnya bisa sampai jam 9 baru di buka. Alasan yang muncul sebenarnya klasik, mulai panitia yang telat hingga peserta yang belum datang atau mungkin masih banyak alasan yang lain, hujan, makan, nunggu jemputan. Padahal semua alasan itu bisa disiasati semua.

Pola pikir untuk memahami kata-kata memang harus ditata agar tidak ada salah paham. Jika ada sebuah sms atau undangan syuro’ atau rapat yang berbunyi ‘rapat anggota jam 8.00’. Apa yang kita pahami???? Jam 8 itu mulai rapatnya atau jam 8 itu baru berangkat dari kos/rumah?? atau bahkan baru memulai setiap agenda, makan dulu misalkan?? atau dipikiran kita masih terlintas ‘ah kan jam 8, paling acara akan dimulai jam 9…itu sudah biasa jadi santai saja…’ apa seperti itu???

Jika kita masih memiliki pandangan seperti itu sebaiknya dirubah, bagaimana caranya setiap kegiatan itu dapat dimulai tepat pada watunya. Telat atau tidak acaranya dimulai maka kita sebaiknya datang sebelum jam tersebut. Jika tidak seperti itu kapan akan menjadi Profesional dalam kerja. Saya rasa ini berlaku disemua tempat. Berbeda dengan undangan seperti acara walimahan, yang tertulis acara jam 8.00-12.00. Artinya acara diselenggarakan pada jam 8-12, dan kita boleh datang diantara jam itu sebisa kita.

Ingat…Kereta itu punya jadwal, jika tertulis jam 8 maka Kereta akan berangkat jam 8, bukan menunggu anda yang sedang bersantai-santai karena anda beranggapan kereta biasa terlambat (seperti lagu iwan fals)… Mulailah tepat waktu…

Wassalamu’alaikum…

Kumpulan Foto Mubes X FORSIKA

Assalamu’alakum….

sejenak pejalanan muktamar FORSIKA ke X, untuk FORSIKA 2010/2011…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Alhamdulillah…semoga amanah….

Kokon Sejahtera Terobosan Baru Persuteraan Alam